PALEMBANG The hidden treasure and gate to Pulau Bangka .

songketMost of precious woven material which well known around the world because its exclusive pattern namely kain songket first is from Palembang and the other place in Sumatra and Malaysia follow with their own pattern , produced mass in Palembang , price can be over 1 millions for 1 piece ( 125 m length , 1m width ) , long time ago the monarchy material woven with gold thread . How kain songket can be found also aroud Sumatera and in Malaysia and why Malaysia and Sumatera has  the same tradition and has the same root of language namely Melayu language root ? In the past the pattern also same like "ulos" in Batak culture .                    
Sriwijaya was a big naval kingdom located in Palembang ( century 3th -13th ) root from the ancestor kingdom Sribuana ( century 1th-3th ) but the big influnce around Asia was in century 6th-12th where Sriwijaya took control around Sumatera , Semananjung Malaka ( Malaysia ) , Kalimantan , Jawa , Nusa tenggara  , Maluku , Mindanao ,  Khmer , India ( according inscription Natalanda in India ) and China . Sriwijaya king also built Borobudur temple in century 8th the big temple in Java . After attacked by the new kingdom in Java ,  India  then the pirates , one of the prince namely Prameshwara run to Melake ( Malaysia ) and built the kingdom there ( written in Ligor inscription ) .   

Kain Songket

Palembang bride        Things to see :
Palembang bride .
Ampera bridgeFor Indonesian people except kain songket , Palembang also well known for its culinary around Indonesia like :
Pempek , fish meat ball serve with brown sugar , vinegar sauce  and chilli acar .
Tekwan , fish ball mixed with palm powder serve with prawn soup , small noodle and mushroom .
Mie celor , a kind of noodle soup but serve in creamy souce with prawn .
Kue maksubah , from duck egg and milk , this cake served in monarchy but now can be found every where
 in Palembang .
How to go there :
Many flights go to Palembang from Medan or bus from bus terminal Medan or you need private car with AC and stop at beautiful places ? Rp700.000/day . Just dial this number : 081973434717


bangka islandBangka island .
How to get to Pulau Bangka  :
By ferry :
You go to Tangga Buntung seaport near the city to take ferry to Muntok seaport ferry leave at 3pm , it takes around 12 hours so buy yur food and drink at Palembang before because the food and drink on ferry is expensive  then take mini bus to town Pangkal Pinang ( takes around 3 hours ) where many hotels and find a motor bike or car for rent to see the beaches .
By jetfoil ( express ferry ) :
Go to Bom Baru seaport but more expensive and service only 1 time/day at 7 am , takes around 3 hours ( buy  the ticket 1 day before leave )  .
By air : there are Garuda and Sriwijaya air service every day from/to Palembang-Bangka .
Souvenirs : Kain cual or limar Muntok ( traditional woven ) around Rp4 millions/set ( 1 set is sash and saroong ) , if woven with gold thread 18-20carat London standarized can be over Rp10millions/set , fishes products , unique housewares from tin , etc .
How to know the woven is origin or not , the origin woven is thick and heavier than the fabric/textile , if the price is less than Rp10milions means the limar or cual is not woven with gold thread . Kain cual or limar Muntok from fabric/textile price start from Rp150.000/set ( sash and saroong ) .

belitung islandBelitung island
Well known with pearl wide beaches and tasty culinary speacially traditional cakes , noodles and sea food , hotels just close to seaport . Good for snorkeling and diving .
Souvenirs : Batu satam ( meteorit stone ) , fishes products :  Abon Ikan ( fish ) , Abon Kepiting ( crab ) , etc  . ( Abon here is  fish cooked in spices then dried ) .
How to get there :
By jet foil : Take the red oplet public bus to Pangkal Balam seaport , jet foil service only 1 time/day at 13.30 .
By flight :
Many flights every day from Depati Amir airport in Pangkal Pinang to Belitung .
Remember Pangkal Pinang , many mistake in buy ticket , they buy to Tanjung Pinang  , it is in Riau  .  Yes , also beautiful but different city .
If you like diving meet Andy Purba , he is  General Manager Lor Inn Resort in Belitung ,  he knows where good places or go to Emas Diving center in Pangkal Pinang  .


Many people said that Sriwijaya palace is on Riau because they found the temple Muara Takus there in Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Riau, , some said in Jambi but due to abration then they moved to Palembang because they find many treausures around Musi river also ancient ship . So difficult for government to make conclusion about their history cos not many evidence left any longer there or some body want to hide/change history , we find evidence from books of the writers in the past  like I-Tsing, Coedes , etc but according to  Muslihun , an arkeolog from Bangka , he understand Pallawa script and Old Malay language ( Sanskrit language ) , he said that palace of Sriwijaya was on the West on Bukit Barisan in Kabupaten Kaur , Propinsi Bengkulu according to inscriptions he found around there .
Source : Muslihun , arkeolog , Bangka .   
This book is really unveil all the history why most the manuscripts , statues ( inscriptions ) , temples around Indonsia were written in Pallawa script and in Old Malay language or Sanscrit language not in the local language where we found it ? Because the kingdom around Indonesia during that time was Sriwijaya .

DINASTI WANGSA SALENDRA DAN KERAJAAN SRIWIJAYA
( Menelusuri jejak , Menguak sejarah)
D
I
S
U
S
U
N

OLEH:

H . MUSLIHUN

Pembukaan
Kita akan membicarakan suatu kerajaan besar yang ada dibukit barisan Sumatera bagian Selatan , ialah kerajaan Sriwijaya.
Tentu ada yang belum jelas wilayah Bukit Barisan Sumatera bagian Selatan , untuk mengetahui letaknya lebih dan kurang dapat kita tarik garis dari Bukit Tunjuk di Lahat , ke Gunung Dempo , terus ke Gunung Bungkuk Ulu Bengkulu , ke Selatan menyelusuri Bukit sampai diujung pulau Sumatera di kota Kerui terus ke Ranau masuk Tumutan terus ke Bukit Tunjuk lagi
Kawasan itu banyak dataran tinggi yang luas dan subur , dahulunya di huni manusia . Dataran tinggi tersebut dihubungkan oleh hutan yang terjal dan luas , sebagai habitat hamper semua jenis binatang termasuk binatang buas.
Untuk mengatasi tantangan alam mereka hidup berkelompok-kelompok ada kelompok besar dan ada kelompok kecil , akibatnya banyak suku dan logat bahasa yang berbeda.
Kapan dating dan mulainya mereka mempunyai Aksara sendiri ,dan perhitungan waktu berdasarkan gerak binatang , akibatnya mereka bebudaya tinggi dan peradapan dan Tata Adat sendiri , hingga kita sulit mencari pemisah antara Prasejarah da zaman sejarah.

Berdasarkan hasil penelitian kami dipedalaman Sumatera Selatan zaman kuno telah tiga kali berdiri kerajaan besar.
Kerajaan-kerajaan tersebut adalah :

A. Kerajaan Srijaya
• .masa kekuasaan sekitar 0-200 masehi
• Pusat kerjaan di Tumutan Tujuh Kisam Tinggi Semendo Darat ( Po pitu ) Sumatera Selatan
• Lambing Kerajaan Burung Srigunting penduduk Di Pedalaman Menyebutnya Burung Sawi
• Kerajaan di pimpin oleh Ratu Agung Srijaya ( Ratu Agung )

B. Kerajaan Sri Buana
• Masa kekuasaan tahun 300-500 masehi
• Pusat kerajaan di Endikat Kabupaten Lahat , Sumatera Selatan.
• Lambing kerajaan Burung Rajawali
• Di pimpin Ratu Sri Buana ( Ratu Agung II )

C. Kerajaan Sriwijaya
• Masa kekuasaan mulai abad ke-6 sampai akhir abad ke-7 Masehi Pusat kekuasaan terletak di Bukit Barisan bagian barat masuk Kabupaten Kaur , Propinsi Bengkulu . kerajaan didukung oleh 40 kerajaan-kerajaan wilayah yang otonom , tersebar didaerah bekas kerajaan Srijaya dan Sribuana dan di pantai Barat Provinsi Bengkulu Bagian selatan .
• Lambing kerajaan Burung Garuda Sakti
• Dipimpin oleh Ratu Agung Sriwijaya ( Ratu Agung II ).setelah hampir dua abad kekuasaan berpusat di Kaki Bukit Barisan.Timbul perintah Daputa Hyang untuk menutup wilayah kerajaan dan di rahasiakan . Pusat pemerintahan kerajaan di pindahkan ke Palembang dan kerajaan wilayah (Raja Kecil) pindah menyebar dari Riau sampai ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Khusus Raja wilayah yang pindah ke Jawa Tengah di pesan secepatnya banyak membangun Candi , untuk mengalihkan perhatian , penutupan kerajaan yang ada di Bukit Barisan tujuannya untuk menjadikan jagad maju . proses penutupan kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Bukit Barisan dan penyebaran Raja-Raja wilayah ( Raja Kecil ) , dapat kita ketahui dengan mempelajari maksud prasasti- prasasti dikeluarkan oleh pusat kerajaan dan Raja-raja wilayah setelah mereka di tempat baru , prasasti itu telah banyak di kutib dalam buku Sejarah Nasional jilid II

Prasasti- prasasti itu antara lain:
Prasasti Kedudukan Bukit
Disebut Prasasti Kedudukan Bukit karena ditemukan di daerah Kedudukan Bukit , di tepi sungai Tatang dekat Palembang dengan angka tahun 604 Saka atau 682 Masehi berhuruf Pallawa dengan menggunakan bahasa Melayu Kuno.
Prasasti setelah kami pelajari isinya tentang keberangkatan Raja Sriwijaya meninggalkan istananya terletak di Bukit Barisan bagian Barat . Sekarang daerah Bengkulu , untuk pindah ke tempat baru ialah Palembang , perjalanan itu sebagai berikut :

a. pada tanggal 23 April tahun 682 masehi Maha Raja dan rombongannya meninggalkan istana melalui sungai , ini namanya Sungai Kinal.tiba di darat melintas bukit menuju Menara induk , yang terletak di tepi Sungai Suci . Menara induk terkenal tempat Raja melihat Laut , daerah ini penduduk setempat di sebut daerah Gunung Kumbang.dari komplek Gunung Kumbang ini maha Raja meneruskan menuju komplek suci dan Desa Suci di tepi sungai Suci ialah desa Suci Tanjung Melake / Kamulan dan Bangunan Suci Bhumisambhara dan Lengga Suci.
Dalam perjalanan normal , berjalan menempuh jarak dari istana Raja yang atau yang di tinggalkan dalam waktu tiga hari akan sampai atau tiba di komplek Suci di tepi Sungai Suci , tetapi rombongan Deputa Hyang ( maharaja ) memakan waktu 24 hari , berarti waktu perjalanan tersebut oleh Deputa Hyang ( Maharaja ) di pergunakan untuk berziarah ketempat –tempat yang harus di hormati , terutama menara induk , dan komplek Suci di tepi sungai Suci.

b. pada tanggal 19 Mei tahun 682 Masehi Deputa Hyang ( maharaja ) besreta rombongan meneruskan perjalanan menuju Bukit Barisan Tumutan Tujuh ( Popitu ) , untuk ziarah ke bekas istana kerajaan Srijaya atau Ratu Agung I Pada hari itu Deputi Hyang ( maharaja ) dan rombongan berangkat mulai dari desa Suci Tanjung Melake atau desa Kamulan di halaman bangunan Suci Bhumismbhara , Komplek Suci di tepi Sungai Suci ini , terletak di wilayah Ulu Danau Sumatera Selatan , di ulu daerah Bengkulu.

c. Pada tanggal 16 juni 682 Masehi Deputa Hyang (maharaja) dan rombongan tiba di tujuan ialah Palembang , anggota rombongan dengan bersuka cita langsung membangun kota. Pujangga dengan puisi berkata:
“Aceh rame , Bengkulu rame , bermasalah menjadi Tindaian (telah elok nian) Palembang masih Pancur Bawang”.

d. Prasasti Talang Tuo,Prasasti Karang Berahi,Prasasti Palas Besemah dan Prasasti Kota Kapur di tempatkan oleh raja-raja wilayah di tempat mereka yang baru , kecuali Prasasti Talang Tuo ada di Palaembang.batu-batu prasasti tersebut telah mereka persiapkan,mereka angkut dari Bukit Barisan,di antara prasasti tersebut prasasti kota Kapuk di Bangka yang jelas menyebutkan bahwa mereka dari Sriwijaya dan di tulis pula pada Prasasti tersebut mereka merindukan saudara-saudara yang pindah di Jawa , bukan perang dengan Jawa , karena abad ke tujuh itu belum ada kerajaan Di Jawa Tengah Dan Timur , prasasti-prasasti yang ada di Sumatera Bagian Selatan hanya di keluarkan pada abad ke-7 , tidak ada lagi abad selanjutnya.maksud raja supayah wilayah kerajaan yang dikosongkan di Bukit Barisan tetap terjaga kerahasiannya , di Jawa Tengah abad 7 belum ada prasasti , baru ada abad ke-8 setelah yang di pindah tiba disana .

Raja-Raja Wilayah Kerajaan Sriwijaya Pindah Ke Jawa
Di atas telah disebutkan bahwa Tumutan Tujuh ( Po pitu ) adalah Pusat kerajaan pertama ialah Srijaya setelah kami penelitian lagi bahwa yang nama Ho Ling tidak jauh dari Po pitu.
Yang disebut Ho ling adalah terletak di kaki Gunung Pandan , bukit-bukit kaki gunung ini banyak terdapat dataran tinggi yang luas.
Tumutan Tujuh ( Po pitu ) dengan gunung Pandan dihubungkan oleh bukit yang panjang bagian dari Bukit Barisan , salah satu bukit itu di sebut bukit Pal , karena tidak ada kayunya . Perlu kita ketahui bahwa Tumutan Tujuh dan gunung Pandan tempat hidup habitat binatang gajah di Sumatera Selatan,binatang gajah di Bukit Barisan dalam hal mencari makan , akan menjelajahi wilayah yang luas tetapi terukur , penduduk pedalaman memahami apabila jamur yang tumbuh pada kotoran gajah mulai membusuk maka rombongan gajah tidak lama lagi akan dating ke tempat itu .
Apabila rombongan gajah ini selesai mencari makan di gunung Pandan dan sekitarnya maka akan pindah ke wilayah Tumutan Tujuh dan sebaliknya kepindahan gajah kedua tempat tersebut melalui bukit Pal . Pada saat rombongan gajah melalui bukit Pal tampak jelas oleh penduduk desa ulu Danau,sehingga menjadai tontonan . Saya tulis soal gajah ini berhubungan dengan beberapa prasasti yang di tulis oleh raja-raja wilayah yang pindah ke Jawa Tengah , tetapi ada di Sumatera Selatan.
Setelah raja-raja wilayah atau raja-raja kecil pindah ke Jawa Tengah , di tempat yang baru mereka mengangkat raja wilayah bagian dari Sriwijaya . Dalam rangka pengangkatan raja mereka mengeluarkan Prasasti . Prasasti tersebut adalah sebagai berikut:

a. Prasasti Tuk Mas
Prasasti Tuk Mas terdapat di desa Lebak di lereng gunung Merbabu dekat Magelang . Prasasti tersebut dengan huruf Pallawa bahasanya bahasa Sansekerta , tahunnya tidak jelas , seorang ahli sejarah menyebutkan pertengahan abad ke VIII.

Isi prasasti pujian kepada mata air yang keluar dari gunung menjadi sebuah sungai bagaikan sungai Gangga di atas tulisan prasasti tersebut di pahatkan gambar Leksana dan alat-alat upacara berupa : cakra , sanka , trisula , kundi , kapak , gunting , dolmas , stap dan empat bunga padma pada benda-benda tersebut jelas sembahan penganut agama Siwa.

b. prasasti Canggal
Prasasti Canggal berasal dari halaman di atas gunung Wukir di kecamatan Salam , Magelang . prasasti ini keluarkan dalam rangka pengangkatan Sanjaya sebagai Raja di Medang . isi prasasti ini memuji bangunan suci di tepi sungai suci yang letaknya di hutan Kunjarakunja ( hutan banyak gajah ) dan Sanjaya adalah keturunan Raja Sanna di Po pitu , dan prasasti tersebut membayar sima .

Dua prasasti diatas telah menulis batu sebagai berikut :
Prasasti pertama , telah menuliskan pujian kepada suatu mata air yang keluar dari gunung menjadi sebuah sungai dengan mengeluarkan airnya yang dingin melalui pasir dan batu bagaikan sungai Gangga pada buku prasasti terebut di pahatkan berupa bermacam-macam sakana , calah cakra , samba , trisula , kundi , kapak , gunting , kudi , dolikmes , staf dan empat padma.
Prasasti kedua , prasasti ini telah menuliskan bahwa Sanjaya memuja sebuah Lingga dikeliling sungai Suci , bangunan suci itu terletak diwilayah Kunjarakunja , keturunan raja Sanna yang terletak di Popitu.
Kesimpulannya adalah bahwa prasasti pertama memuja sungai Suci , seperti sungai Gangga , prasasti kedua memuja Lenga dan Lengga ini lengga Suci yang terletak di tepi sungai Suci , dimana sungai Suci itu diwilayah Kunjarakunja , sedangkan prasasti itu dikeluarkan pada tahun 654 Saka atau 6 oktober 732 masehi,dalam rangka pengangkatan Sanjaya Raja Pertama di Medang ( Jawa Tengah ).karena prasasti tersebut telah menyebutkan bahwa Sanjaya memuja sungai Suci , Lengga suci itu terletak di hutan Kunjarakunja
( hutan yang banyak gajah ) maka telah dapat di simpulkan bahwa raja Sanjaya yang di lantik di Medang tahun 732 M tersebut adalah Raja wilayah kerajaan Sriwijaya yang pindah ke Jawa tengah.

Parasasti Kelurak
Dalam rangka mambangun candi-candi di Jawa Raja Sriwijaya pada salah satu candi mengeluarkan Prasasti namanya Prasasti Kelurak 26 September 782 M disana tertulis Raja Sriwijaya sang permata wangsa Salendra sebagai Sriwirawairiwarawimardana yang berarti pembunuh musuh-musuh yang gagah perwira.

Prasasti Natalanta (di India)
Parasasti ini dibuat Raja Balaputradewa dituliskan Saidendramasnsdilaka Sriwirawairimarlana atau keluarga Salendra pembunuh musuh-musuh tiada bersisa

Parasasti Ligor
Raja Sriwijaya Balaputradewa sepulanh di India mampir di Malaka beliau menulis pada prasasti yang lebih dulu ditanam disana bahwa Raja Sriwijaya adalah menuliskan nama Raja Wisnu dengan gelar Sarwarmodawimathama.
Dengan tiga prasasti sudah cukup bahwa raja-raja Sriwijaya Wangsa Salendra.

Istilah Mataram dan Rakai Mataram
pada awal abad VII Wangsa Salendra telah menyebar di Pantai Timur Sumatera , di Riau darat dan Laut , Jambi , Bangka , Belitung sampai ke Lampung Selatan , dan Semenanjung Malaka.
Waktu Raja Wilayah pindah kesuatu tempat , mereka mendarat , tempat tersebut belum ada namanya , mereka namakan Tanjung Malake mengambil nama Desa Suci di Bhumisimbhara , nama itu semenanjung Malaka sekarang Malaysia , mereka tanam prasasti namanya prasasti Ligor.
Setelah raja wilayah sebagian besar telah menempati tempat masing-masing , pusat pemerintahan Sriwijaya di Palembang Pindah Agama Budha , ( tentang pindah agama tidak kami bicarakan disini ) sementara khusus raja wilayah,di Jawa tengah tetap agama Hindu / Siwa.
Pada akhir abad ke delapan Raja Sriwijaya pergi ke Jawa untuk membangun Biara-biara Budha. Sementara raja-raja wilayah yang tetap menganut agama Hindu/Siwa membangun Candi Siwa , maka di Jawa tengah dua macam Bangunan Candi : Budha dan Siwa.
Pada waktu Raja wilayah di Jawa Tengah sedang di jabad oleh Raja Generasi Ke IV , ialah Patapan Pu Lardan Raja Sriwijaya pada waktu itu ialah Samaratungga antara kedua Raja itu timbul perjanjian namanya Perjanjian Mataram.
Perjanjian itu dituangkan pada Prasasti , untuk Samaratungga Prasasti Karang Tengah dan untuk Patapan Pu Palar dituangkan dalam Prasasti Kayumwongon tahun 824 M Kata Mataram bukan Nama wilayah kerajaan.

Wangsa Isana Dan Wangsa Rajasa Di Jawa Timur

Pada tahun 928 Masehi atas Perintah Maharaja Pemerintahan Kerajaan di Jawa Tengah ditutup dipindahkan ke Jawa Timur;
Untuk memindahkan Kerajaan di Jawa Timur di tunjuk Raja Baru ialah Pu Sinduk , ditulis pada Prasasti Sangsuran tahun 850 Saka atau 2 Agustus 928 M
Oleh Pu Sinduk setelah Menjadi Raja di Jawa Timur nama Wangsa Salindra diganti dengan nama wangsa Isana , Nama kerajaan tetap tidak ada karena sama dengan di Jawa Tengah ialah Raja wilayah atau Raja bawahan.
Penggantian nama ini diketahui setelah Raja Airlangga mengeluarkan Prasasti Pucangan tahun 963 Saka ( 1041 M ).
Pada tahun 1222 M Dinasti Isana habis setelah tujuh kali berganti Raja dan terakhir Raja Sri Kertajaya Jaya Wardana.
Setelah habis Dinasti Isana maka timbul Dinasti baru di pimpin oleh Ken Arok , dinasti ini namanya Dinasti Rajasa , Dinasti Rajasa lama berkuasa pada tahun 1222 M s/d 1519 M di dalam Dinasti ini ada nama kerajaan ialah Majapahit.
Di Sumatera tiga kali ganti Nama Kerajaan dan di Jawa tiga kali Nama Wangsa.

BANGUNAN SUCI PUSAT LELUHUR WANGSA SAILENDRA
Untuk memperjelas temuan hasil penelitain kami menganai bangunan suci sebagai pusat leluhur wangsa Sailendra yang terletak di daerah disebelah Barat Desa Tanah Pilih Kecamatan Ulu Danau Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Sumatera Selatan , sekali gus untuk mempertegas tujuan dan fungsi Bangunan Suci tersebut , berikut akan kami uraikan satu persatu , yaitu:
1.BHUMISAMBHARA
Bangunan Bhumisambhara yang sangat besar dan tinggi ini sangat mengagumkan.fungsinya , oleh wangsa Sailendra yang telah pindah , apabila ada upacara kerajaan yang berupa peresmian bangunan mengeluarkan prasasti maka harus membayar Sima , berupa tanah atau benda pusaka, dengan niat untuk dipersembahkan kepada Bharata (Dewa) di Bhumisambhara, bangunannya kelilingnya 5.000 M dan tinggi 250 M dan terdiri dari bangunan batu, ada yang halus dan ada sedikit kasar, masih ditutupi tanah dan hutan lebat, rakyat setempat tak tahu fungsi bukit ini, disebutnya bukit Sunu , karena banyak kayu yang mati pada musim kemarau, bangunan ini baru sesuai sebagai peninggalan wangsa Sailendra, dengan kerajaan Sriwijaya yang tersohor karena lama dan luas kekuasaannya.

2. LINGGA SUCI
Bangunan ini berfungsi apabila ada upacara kerajaan wangsa Sailendra dimana saja, mengenai pengangkatan seorang Raja atau pejabat kerajaan, maka mereka diharuskan membayar Sima,dengan niat dipersembahkan kepada Bhatara (Dewa) di Lingga Suci, tempat asal leluhur mereka. Bangunan ini kelilingnya 3.000 M tinggi 150 M dipisahkan oleh sungai suci dengan bangunan Bhumisambhara tersebut diatas.

3. DESA TANJUNG MELAKE atau DESA LELUHUR (Kamulan)
Desa Kamulan (Tanjung Melake) berfungsi, apabila ada upacara kerajaan mengenai peresmian perluasan wilayah atau peresmian wilayah kerajaan atau pensucian daerah pemukiman penduduk kerajaan wangsa Sailendra , maka dalam upacara kerajaan mengeluarkan prasasti juga akan membayar Sima, yang dipersembahkan kepada Bhatara (Dewa) yang ada di Desa Tanjung Melake atau desa Kamulan.
4. SUNGAI SUCI
Sungai Suci ialah Sungai Luas, dimana kesuciannya masih terjaga sampai sekarang. Hal ini tercermin dari masyarakat di hulu sungai yang tidak boleh (dilarang) mengotori sungai tersebut, kalaupun dilanggar maka akan mendapat ganjaran langsung sebagai kutukan ghaib, baik diterima sendiri secara pribadi dan keluarga ataupun satu desa secara keseluruhan.
Sungai ini mengalir dari Ulu Danau bermuara di Pantai barat Sumatra, tepatnya di Tanjung Iman, kecamatan Kaur Tengah Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu.

Hampir keseluruhan prasasti di Jawa yang kami pelajari berhubungan dengan pusat leluhur wangsa Sailendra.
Setelah pindah ke Jawa, Wangsa Sailendra menyusun kerajaan. Dalam upacara pelantikan Raja Pertama, mereka mengeluarka prasasti Canggal dan membayar Sima untuk dipersembahkan kepada Bhatara (dewa) di Lingga Suci. Karena Sanjaya adalah Raja pertama Wangsa Sailendra yang berkuasa di Jawa, berarti bahwa kekuasaan ayah dan kakeknya masih di Sumatra Selatan.
Setiap upacara pelantikan Raja atau pejabat kerajaan dengan mengelurkan prasasti dan membayar Sima, maka Sima akan dipersembahkan kepada Lingga Suci, tetapi dalam hal ini nama Lingga Suci memiliki banyak nama dan istilah yang diganti-ganti.misalnya dapat kita lihat pada prasasti Ligor di semenanjung Malaka , Lingga Suci bernama Trimaya Centya pada Prasasti Dinoyo 760 Masehi di Malang Jawa Timur , Lingga Suci di sebut Maharasi Agastya;sementara pada Prasasti Klurah di Jawa tengah Istilah Lingga Suci disebut dengan Kombhayuni.

Kemudian setelah 2 abad ( 200 tahun ) lebih dari dikeluarkannya Prasasti Canggal tahun 732 M sampai dengan prasasti Anjung Ladang sekitar tahun 859 M yang dikeluarkan oleh Pu sindok setelah di Jawa Timur , tetapi dalam hal ini masih menyebutkan membayar sima ditujukan kepada
Bhatara di walandit (maksudnya kompleks suci leluhur di Sumatera Selatan).walaupun mereka telah pindah ke Jawa timur dan berganti nama wangsa dari Sailendra (sewaktu di Jawa Tengah ) menjadi wangsa Isana
( setelah di Jawa Timur),tetapi mereka tetap tunduk kepada Bhatara ( dewa ) di daerah leluhur
Walaupun nama tempat leluhur yang di sebutkan dalam prasasti yang dikeluarkan namanya berubah-rubah,tetapi maksud dan niatnya sama.dimana setiap kesempatan mendirikan bangunan baru , tempat Raja atau pengangkatan pejabat kerajaan atau pensiunan pemikiman , mengeluarkan Prasasti selalu membayar sima ,untuk menghormati leluhur . Sima dipersembahkan kepada Bhatara ( Dewa ) di Bhumisambhara , tetapi dengan nama lain yang sama maksudnya .nama-nama tersebut bias berupa Bhatara di pastika , Syang hyang dharma , bangunan suci di pastika , Dharma , Mastopa , Musukkhyarasta , bangunan suci di Lemwung , dan lain-lain.
Apabila peresmian perluasan wilayah kerajaan , atau pencucian kampong mengeluarkan Prasasti , maka sima ditunjukan kepada Bhatara
( dewa) di desa Tanjung Melake , desa ini adalah desa suci kesatuan leluhur sebagai cikal bakal atau mulan atau bibit wangsa Sailendra , letaknya di halaman
( pekarangan ) Bhumisambhara . Di desa ini ada penyeberangan yang menghubungkan Bhumisambhara dengan Lingga Suci melalui Sungai Suci.

PENUTUP
Pada abad pertama kerajaan Srijaya lama Pemerintahan lebih kurang dua abad , setelah itu diganti oleh Kerajaan Sribuana , pemerintahannya selama tiga abad diteruskan oleh kerajaan Sriwijaya , setelah dua abad pemerintahan yang berpusat di Bukit Barisan , pusat pemerintahannya di pindahkan ke Palembang , seluruh bangunan peninggalan ketiga kerajaan ditutupi dengan tanah berarti kerajaan di Bukit Barisan telah berjalan tujuh abad.
Berdasarkan hasil kesepakatan Maha Raja dengan Raja-raja wilayah setelah pusat pemerintahan ditutup di Bukit Barisan , Raja-raja Wilayah akan menyebar , dapat kita buktikan Prasasti Karang Birahi di Jambi , Prasasti Kota Kapur di Bangka , Prasasti Palaspasunah di Lampung Selatan , Prasasti Dinoyo dekat Malang , dan Prasasti Legor di Malaka ( Malaysia ).
Prasasti Kelurak di Jawa Tengah , Prasasti Legor di Malaka , dan Prasasti Nalada di India menyatakan Sriwijaya adalah Permata wangsa Salendra , berarti kerajaan yang yang ada di Bukit Barisan selama 7 abad adalah Wangsa Sailendra.
Tulisan sya ini saya beri judul Dinasti wangsa Sailendra dan Kerajaan Sriwijaya , Menelusuri jejak , Menguak Sejarah , telah terjawab.

“batu besak terbenam,batu kecik mengapung tujuh ganti sembilan gilir”
“sungai musi hanyut kehulu”
“wabilataufik walhidaya wassalam”mualaikum Warahmatullah wabarakatuh”

Tertanda

 

Bangka